Sensasi Fakta di Media Massa

Semua ide di kepalaku untuk menulis masalah lain langsung hilang setelah baca media-media lokal Bali hari ini. Semuanya menulis di headline bahwa ada ledakan dahsyat di Denpasar yang mengakibatkan dua mobil hancur. Dua contoh berita ini dari NusaBali da Bali Post. Aku ambil versi online.

DENPASAR, NusaBali
Rabu, 06 Pebruari 2008
Meski tak ada korban jiwa, ledakan itu menghancurkan dua mobil dan meninggalkan lubang di gudang parkir yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto I Gang XVII No 3, tepatnya Banjar Tegeh Sari, Denpasar itu.

Atau berita ini.

Ledakan di Gatsu, Dua Mobil Hancur
* Ada Dugaan Bom

Denpasar (Bali Post) -
Ledakan dahsyat mengguncang garasi mobil Dirga Bali Transport dan rumah Ida Bagus Dirga (55) di Jalan Gatot Subroto (Gatsu) I Gang XVII No. 3, Denpasar Timur. Kejadiannya Selasa (5/2) dini hari kemarin. Belum diketahui pasti sumber ledakan tersebut. Ada dugaan ledakan itu dari bom yang berkekuatan rendah (low explosive).

Aku yakin di Radar Bali juga lebih gawat karena koran ini paling suka bikin berita gawat. Sayangnya aku tidak dapat versi online-nya. Versi cetak aku sudah berhenti langganan bulan ini.

Berita di atas bikin aku bertanya, “Aduh, aduh, apanya yang hancur?”

Berita ini memang jadi perhatianku sejak kemarin (5/2). Gara-garanya, pas aku lagi duduk manis ngedit tulisan di tempat kerja part time, ada kabar kalau di Bali ada bom lagi. Tentu saja aku ketar-ketir. Pertama karena sudah dua kali ada bom di Bali. Kedua karena takut dampak dari bom itu.

Setelah baca ada berita soal itu, aku pun mencari tahu. Apalagi di liputan6.com yang mengutip Kantor Berita Antara, ada berita itu yang isinya memang seram. “Dua mobil hancur karena ledakan di Jl Gatsu I Denpasar”. Karena lokasi ledakan dekat rumah, aku segera SMS Lode, istriku untuk cek. Lalu bundaku sayang ini bilang, “Ah, media saja melebih-lebihkan. Ledakan biasa saja.”

Pulang kerja, aku mampir untuk melihat ledakan di depan radio Menara ini. Dan situasi di tempat kejadian perkara (TKP) memang jauh dari berita di media, terutama di bagian judul atau leadnya.

Dua mobil yang diberitakan hancur itu hanya pecah kaca belakangnya. Sebatas yang aku lihat dari jarak sekitar 5 meter, karena ada garis polisi tanda tidak boleh masuk lokasi, bahkan bagian depan mobil itu pun tidak rusak. Benar-benar hanya pecah kaca belakangnya. Enam mobil lainnya, yang berjarak tak lebih dari 2 meter pun utuh. Lha, ini ken-ken? Kalau dua mobil lain diberitakan hancur, pasti enam mobil lain di garasi itu juga kena. Ya, paling tidak lecetlah. Tapi ini lecet sedikit pun tidak.

Jauhnya fakta di lokasi dengan fakta di media ini membuatku ingat omongan beberapa teman wartawan ketika kami dalam perjalanan ke Ubud untuk bertemu Anya Schifrin, istrinya peraih Nobel di bidang ekonomi, Joseph Stiglitz, sekitar Oktober tahun lalu. Dengan nada nyeletuk, seorang teman wartawan harian bilang, “Bahkan ketika aku baru bangun, hal pertama di otakku adalah bagaimana membuat berita seheboh mungkin. Jadi tidak usah heran kalau wartawan suka mlintir,” katanya. Mlintir itu kata lain dari membuat berita.

Tiap manusia memang punya kecenderungan untuk melebih-lebihkan cerita. Juga media massa. Maka, jangan percaya media sepenuhnya. Kadang-kadang sensasi lebih berarti bagi media dibanding fakta itu sendiri..

9 Comments

Filed under Jurnalisme, Pikiran

9 responses to “Sensasi Fakta di Media Massa

  1. sama dengan hiperbola nggak pak?

  2. Mudah mudahan ‘penyakit’ wartawan ini tidak mewabah ke dunia blogger. :)

  3. hahha..menaikkan oplah. kalau headlinenya biasa2 saja seh, mana tertarik kite2 ini beli, bung? :D

  4. “A BAD DAY IS A GOOD NEWS”

  5. sing ade ape de….
    media terlalu melebih-lebihkan, abis baca berita tsb di detik, pulang kerja langsung ke TKP, eh mule sing ade ape ….

  6. @ wira: betul, pak dosen. :)

    @ blogdokter: santai saja, pak dokter. kalo penyakit itu nongol jg di blogger, kan ada pak dokter. :D

    @ dewi: kalo menaikkan yg lain seh boleh2 saja. :p

    @ ancak: a bad guy is a bad commentator. :D

    @ dipoetra: sajan tuh, bli. padahal kita udah deg2an gak karu2an baca beritanya.

  7. seperti kata Manifesto Blogger Bali dalam launching BBC: “Menolak Penyeragaman Informasi, maka Mai Ngeblog Pang Sing (tambah) Belog”

  8. Sensasi menambah oplah, UUD (ujung-ujungnya D’kecer). Ga ada sensasi bikin sensasi…….sensasi satu dunk!* sejenis jaja uli kale*

  9. Mlintir ???

    I love this words jugaaaa !!! Hidup ‘mlintir’ ! ‘fakta’nya mau dikemanain ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s