Category Archives: Buku

Hantu Blok M dalam Sejarah Tempo

Kesimpulan yang langsung muncul di otakku setelah baca buku ini adalah: membaca buku ini sama dengan bercinta. Bagian paling enak (orgasme) ada di akhir. Begitu pula buku ini.

Setelah membaca delapan bab ditambah Prolog dan Pengantar, aku merasa bagian paling enak dari buku ini ternyata ada di Bab 9. Bab berjudul Hantu Belau ini menampilkan fakta yang belum pernah aku tahu sebelumnya dari mana pun. Bahwa pernah ada hantu bernama Blok M dalam sejarah majalah ikon kebebasan pers di Indonesia ini.

Continue reading

11 Comments

Filed under Buku, Jurnalisme, Pikiran

Cerita Puputan Tanpa Kesimpulan

-tulisan terakhir di GATRA, meski buatnya sudah sejak akhir September lalu-

Buku tentang Puputan Badung dari persepektif Belanda dan Bali. Tanpa kesimpulan jadi pilihan mengambang.

Peringatan seabad perang antara Belanda dan kerajaan Badung diperingati di Denpasar, Bali Rabu pekan lalu. Ribuan orang mengiringi arak-arakan Gerebek Aksara sepanjang sekitar 100 km dari Karangasem ke Denpasar. Selain mengarak benda-benda pusaka, termasuk buku Sutasoma dan Negara Kertagama, juga ada parade kerajaan-kerajaan nusantara. Perang yang dikenal dengan nama Puputan Badung itu dikenang sebagai salah satu peristiwa besar, setidaknya bagi warga Denpasar.

Meski dianggap peristiwa besar, catatan sejarah tentang perang pada 20 September 1906 itu termasuk kurang. Kalau toh ada, berupa bahasa Belanda atau geguritan Bali dan Jawa kuno, bahasa yang susah dimengerti sebagian besar orang Bali saat ini. Maka, peneliti sejarah Bali University of Queensland Australia Helen Creese, guru besar Sejarah Asia Erasmus University Rotterdam Belanda Henk Schulte Nordholt, dan dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali Darma Putra menghimpun bahan-bahan tentang Puputan Badung dalam satu buku. Buku itu diluncurkan sehari sebelum puncak peringatan seabad Puputan Badung.

Continue reading

1 Comment

Filed under Bali, Buku, Pekerjaan, Uncategorized

Setelah Libur Panjang

Senin lagi. Kayaknya hari2 cepet banget. Perasaan baru kemarin liputan menjelang Nyepi, eh tau2 hari Nyepi sudah berlalu empat hari lalu.

Senin lagi. Ini hari pertama setelah liburan Nyepi. Di Bali, praktis seminggu lalu libura panjang amat terasa. Senin lalu aja Denpasar udah sepi. PNS banyak yang libur. Orang Denpasar, yang sebagian beasr juga kaum urban, pada mudik ke Karangasem, Singaraja, Negara, dan daerah lain di Bali.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Aneka Rupa, Buku, Daily Life, Pekerjaan, Uncategorized

Chomsky, Bush, dan Indonesia

Kemarin abis baca buku Chomsky untuk Pemula. Belinya di Gramedia minggu lalu pas lagi nyari buku tentang Ajeg Bali. Mumpung pas ada duit, sekalian aja beli. Karena Chomsky juga karena yang nerbitin Resist Book yang bukunya murah dan bagus.

Baca buku tentang Chomsky menarik. Dia salah satu pemikir yg banyak dikutip saat ini karena ide-idenya tentang linguistik, media, dan Amerika Serikat. Tidak terlalu baru sih ide-ideen di buku itu. Cuma jadi lebih tau tentang dia aja.

Continue reading

2 Comments

Filed under Buku, Jurnalisme, Pikiran, Uncategorized

Need Help: Sanggar Baca Kita

Ternyata susah juga mau bikin usaha. Rencananya aku mau bantuin Lode, cewekku, bikin sanggar baca. Kami udah ngobrolin ini sejak dua bulan lalu. Kami juga udah bikin survey kecil-kecilan dimana tempatnya dan apa saja bukunya. Hasilnya? Tempatnya ngambil salah satu kamar di rumah Lode di samping garasi. Sedangkan bukunya mau ambil segala macam bacaan untuk anak-anak dan remaja.

Beberapa hari ini Lode udah nyari buku ke penyewaan dan toko buku. But, belum ada hasil yang menyenangkan. Pak Selamet, pemilik persewaan Prastiwi di Jl Waturenggong dan Prima di Jl Gunung Batukaru mau menjual tapi harganya masih kemahalan. Masa, buku lama dijual hampir sama dengan harga toko. Padahal kami butuh banyak buku sedangkan modal cuma dua jutaan untuk beli buku saja.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Buku, Daily Life, Uncategorized

Dua Negara, Seribu Satu Cerita

-resensi buku-

Meskipun judul bukunya berembel-embel catatan perjalanan jurnalistik, buku ini lebih tepat disebut kajian tentang Damascus dan Baghdad. Sebab penulisnya tidak hanya menyusun berdasarkan reportase di lapangan tapi lebih banyak menggunakan bahan-bahan tertulis alias riset. Penggunaan data skunder lebih banyak, dibandingkan observasi atau wawancara dengan sumber-sumber di lapangan, misanya.

 

Maka, embel-embel sebagai catatan perjalanan jurnalistik dalam buku ini terkesan dipaksakan. Sebab, buku ini lebih dari itu. Sebagaimana disinggung dalam pengantarnya, buku ini memang tidak hanya sebuah laporan jurnalistik tetapi pemahaman mengenai sejarah sebuah negara, kota, dan juga suku-suku bangsa yang ada di dunia.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Buku, Jurnalisme, Uncategorized

Tak Hanya Menyanyi, Mereka Juga Kiri!

Siapa sangka ternyata John Lennon (siapa yang tidak kenal dia?), Bono (U2), serta Thom Yorke (Radiohead) ternyata digolongkan sebagai orang-orang kiri. Padahal mereka selama ini hanya dikenal sebagai penyanyi. Itupun barangkali hanya di komunitas penggemar rock. Setidaknya itu yang ditulis buku Menjadi Kiri itu Seksi terbitan Penerbit Alinea Yogyakarta Mei lalu.

Munculnya rock memang tidak bisa dipisahkan dari kritik sosial maupun politik. Pilihan kelompok musik ini bisa berupa lirik, gaya pakaian, maupun keterlibatan langsung dalam gerakan-gerakan politik. Pada 1960-an kelompok musik rock dengan gaya rambut panjang, celana jeans, pro drugs, dan lirik-lirik bertema cinta muncul sebagai protes karena Perang Vietnam.

Continue reading

2 Comments

Filed under Buku, Pekerjaan, Uncategorized