Category Archives: Uncategorized

Tiada Hujan Tiada Badai

Begitulah, tiada hujan tiada badai, tiba-tiba badanku demam ga karuan dua hari ini. Tubuh yang aneh. Cepet banget sih KO?

Advertisements

18 Comments

Filed under Uncategorized

Orang-orang (Sok) Pinter, Ngebloglah..

Usai ngobrol sama Yanuar, Arie, dan Novan, soal persiapan launching Bali Blogger Community (BBC) di Popo Danes, aku makan siang di Warung Tresni Renon. Tentu saja setelah jadi umat yang taat. Jumatan maksudnya. Pas aku baru duduk usai pesan tipat kuah, menu favoritku di warung Bli Putu Indrawan ini, datang Bli Anom, wartawan Radio Global.

Ternyata di warung itu ada juga Bli Redika, humas PLN Bali. Tak lama, datang pula Mas Ema, wartawan Bisnis Indonesia di Bali dan senior di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar. Aku lupa kapan terakhir ketemu teman-teman ini. Sepertinya sudah lama. But, meski lama tidak ketemu, ternyata ada bahan obrolan langsung klik: soal blog.

Continue reading

20 Comments

Filed under Blogging, Pikiran, Uncategorized

Komentator, Haruskah jadi Provokator?

Aku agak ragu-ragu ketika akan menulis posting ini. Pertama, ada beberapa hal yang muncul di kepala untuk ditulis. Tapi ketika sudah mau aku tulis, aku mikir lagi. Untuk apa sih aku menulisnya di blog? Lalu aku baru sadar. Ternyata aku nulis hanya karena ingin ada yang mengomentari, bukan karena aku memang ingin menulis. Kedua, aku juga takut tulisan ini akan dibaca nyinyir sama orang lain. Takut orang lain akan menuduh aku songong dan lain-lain. Ini memunculkan pertanyaan, “Aduh, sejak kapan dibaca orang harus jadi pertimbangan utama bagiku ketika akan menulis di blog? Kenapa harus takut dituduh atau dikomentari orang lain?”

Well, tulisan dibaca orang tentu menyenangkan. Apalagi sampai dikomentari. Tapi lama-lama kok aku mikir itu seperti bumerang. Memang sih, di satu sisi itu berarti tulisanku tidak jadi sekadar masturbasi. Komentar dari orang yang berkunjung berarti ada respon meski hanya beberapa orang dan kadang lebih sering basa-basi. Lalu, lama-lama kok aku makin termotivasi menulis hanya untuk sekadar mendapat komentar. Artinya, komentar sudah jadi motivasi utama. Itu sih terasa akhir-akhir ini.

Continue reading

9 Comments

Filed under Daily Life, Pikiran, Uncategorized

How Poor Desperate Desi

desi.jpg

*Nemu di antara tumpukan kartu nama di Ashram Gandhi Candi Dasa awal tahun lalu. Unik. Dan lucu.*

5 Comments

Filed under Aneka Rupa, Daily Life, Uncategorized

Biar Kere Asal Bebas

Ketika kami lagi berbaring sambil baca koran, istriku menceritakan keinginannya untuk bekerja tetap di salah satu media yang akan segera terbit di Bali. Koran punya grup Media Citra Nusantara itu katanya akan terbit Januari nanti. Beberapa temanku di sana. Salah satunya yang kemudian ngobrol sama Lode, istriku, untuk kerja di sana saja.

Hmm, ini masalah yang sudah berkali-kali kami diskusikan. Aku juga kadang-kadang iri melihat teman kerja terikat. Sepertinya enak dengan rutinitas berangkat pagi, kerja sepanjang hari, dan pulang ketika petang. Lalu tiap akhir atau awal bulan kita dapat gaji atas pekerjaan tersebut. Besar kecilnya relatif. Yang jelas kita dapat pendapatan tetap. Dan, inilah yang dicari istriku.

Continue reading

21 Comments

Filed under Daily Life, Keluarga, Pekerjaan, Uncategorized

Nyepi Sehari untuk Mengurangi Emisi

Mari melihat Nyepi sebagai kearifan lokal untuk memberi bumi sejenak beristirahat. Meski hanya sehari, itu jelas sangat berarti. Maka, marilah dukung usaha agar Nyepi bisa jadi momen internasional meski tidak harus serempak, meski tidak harus ala Bali.

Mari melihatnya dari sudut pandang bumi yang kian letih. Usaha ini pula yang dilakukan melalui delegasi resmi kawan-kawan NGO Bali maupun kelompok lain di KTT Perubahan Iklim di Nusa Dua Bali yang sedang berlangsung. Ini pula yang kawan-kawan teriakkan pada Parade Budaya 8 Desember lalu.

Continue reading

8 Comments

Filed under Bali, Daily Life, Pikiran, Uncategorized

Ketika Tulisan Dilawan Tuntutan

Terjadi lagi. Wartawan diadili gara-gara tulisannya. Kali ini Bersihar Lubis, yang menulis esai di Koran Tempo, diadili di PN Depok gara-gara mengkritik pembakaran buku sejarah oleh Kejaksaan Negeri Depok. Aduh, ini bener-bener parah. Sudah walikotanya suka bakar buku, kini kejaksaannya nuntut wartawan.

Walikota dan Kejaksaan itu seharusnya berpikir. Buku ya dilawan buku. Tulisan ya dilawan tulisan. Bukan mentang-mentang punya kuasa lalu main tuntut seenaknya!

Ini tulisan Bang Bersihar Lubis di Koran Tempo 1 Maret 2007 itu. Semua aku peroleh dari milis Pantau-Komunitas yang dikirim Bonnie Triyana. Ini sebagai bentuk solidaritas untuk Bang Bersihar, meski tidak pernah kenal. Continue reading

Leave a comment

Filed under Uncategorized