Tag Archives: Cultural Studies

Tidak Ada Lagi Penulis Nakal Itu..

Pagi yang melelahkan. Setelah semalem nglembur nunggu hasil Munas Golkar di Nusa Dua, pagi ini aku ingin sesuatu yang agak santai. Tidur. Denger musik. Baca hal-hal santai. Aku terlelap, lalu bangun jam 10an karena ada telpon. Minum teh hangat. Satu donat. Lumayan buat ngangetin perut.

Lalu, koran hari ini datang. “Kebetulan hari Minggu. Biasanya beritanya kan santai-santai,” pikirku. Koran pertama, Jawa Pos. Aku baca soal Munas Golkar. Berita lain lewati aja. Ini kan Minggu, ngapain terlalu serius baca koran. Untunglah ada tulisan Ki Slamteg soal My Heart Will Go On, cerita parodi ala film Titanic. Aku senyum-senyum sendiri.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Aneka Rupa, Daily Life, Pekerjaan, Uncategorized

Menonton Akademi Fresiden Indonesia…

[tulisan ini modifikasi dari yg sebelumnya. ya, biar agak aktual dikitlah]

Cek kali cek, ternyata pemilihan presiden mendatang tidak jauh berbeda dengan Akademi Fantasi Indosiar (AFI) yang heboh itu. Selain peran politisasi tubuh, iklan untuk memperbagus kesan (image) pun turut mendongkrak popularitas calon presiden.

Tidak usah mikir yang gawat-gawat soal pemilihan presiden 5 Juli mendatang. Seperti juga tidak usah ikut menangis ketika Cindy, akademia imut-imut dari Jakarta itu dieliminasi di AFI. Sebab pilpres dan AFI memang mirip. Ada beberapa kemiripan antara keduanya. Pertama, ketika Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tidak lolos sebagai capres dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) karena alasan tidak sehat jasmani dan rohani. Seperti halnya AFI, jangan harap orang bertubuh tidak normal (kata orang Inggris sih different ability, -diffable) bisa lolos pencalonan pilpres. Politisasi tubuh itu tidak hanya pada kasus Gus Dur tapi juga pada pekerjaan sehari-hari di sekitar kita.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Pikiran, Uncategorized

Inul dan Dunia yang Maskulin

Memperdebatkan apakah goyangan Inul Daratista itu boleh atau tidak, pada hari-hari ini jauh lebih menarik daripada mendiskusikan bagaimana para partai politik mempersiapkan calon presidennnya masing-masing untuk Pemilu 2004 nanti. Sebabnya bisa jadi karena kejenuhan terhadap hal-hal yang terlalu serius. Bisa jadi karena fenomena Inul itu sendiri memang menarik untuk diobrolin.

Inul muncul bukan oleh industri musik yang mapan. Penyanyi bernama asli Ainul Rokhmah itu sudah memiliki penggemar yang tidak sedikit ketika goyangannya belum “ngebor” TV. Inul sudah ditonton banyak orang dalam setiap penampilannya justru ketika menyanyi di pesata pernikahan, peringatan 17 Agustus, sunatan, dan hajatan-hajatan yang bisa mengundang massa. “Gerilya” Inul ini sudah sejak dilakukan sejak 1995. Dan, tidak kalah menariknya, popularitas Inul ini dilakukan melalui sesuatu yang hingga saat ini masih diharamkan dalam industri musik, VCD bajakan! Penjualannya pun di tempat-tempat umum semacam terminal, pasar, bahkan kapal penyeberangan Gilimanuk-Ketapang.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Pikiran, Uncategorized

Mewaspadai Tipu Daya Iklan (Capres)

Pada 1 Juni lalu, seluruh pasangan caplon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) memulai kampanye masing-masing secara langsung maupun melalui media massa cetak dan elektronik. Kampanye secara langsung itu dilakukan misalnya dengan kunjungan ke rumah sakit oleh Megawati-Hasyim Muzadi maupun blusukan di pasar seperti yang dilakukan Amien Rais-Siswono Yudhoyono. Selain kampanye konvensional tersebut, beriklan di media massa juga menjadi salah satu cara kampanye para capres dan cawapres. Namun, karena bersifat monologis, kampanye dengan beriklan sangat rentan memanipulasi fakta.

Kita bisa melihat misalnya pada waktu sebelum kampanye dimulai. Anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Bimo Nugroho mengatakan iklan calon presiden dari Partai Golongan Karya Jenderal (Purn) Wiranto telah memanipulasi fakta (Kompas, 26/5). Iklan yang dipublikasikan melalui TV tersebut hanya ditampilkan dengan memotong beberapa fakta dalam kerusuhan Mei 1998. Akibatnya, menurut Bimo Nugroho, iklan tersebut menyesatkan mereka yang tidak paham mengenai kerusuhan menjelang mundurnya Soeharto tersebut. Sebab, iklan kampanye Wiranto dibuat –tentu saja- hanya demi kepentingan Wiranto.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Pikiran, Uncategorized

Iklan yang Jadi Tuntunan

Salah satu tanda akhir zaman adalah pada zaman itu tontonan akan jadi tuntunan.. Maksudnya, sesuatu yang kita tonton akan kita jadikan sebagai hal yang patut ditiru. Demikian pernah dikatakan Muhammad, nabi umat Islam dalam sebuah kesempatan. Padahal, saat ini, sebagian besar tontonan, sangat tidak layak kalau dijadikan tuntunan.

Di Indonesia, lahirnya stasiun TV swasta sejak 1989 lalu turut menyebarluaskan tontonan kepada masyarakat yang ujung-ujungnya berakhir pada penonton yang menjadi “umat” tontonan tersebut. Tontonan itu bisa berupa sinteron, film, video klip, talk show, reality show, juga iklan.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Pikiran, Uncategorized

Berekspresi Lewat Kaos Oblong

Bagi sebagian orang, barangkali termasuk kita, kaos oblong tidaklah sekadar sebagai kebutuhan dasar manusia akan sandang. Ia tidak hanya untuk melindungi tubuh dari cuaca atau demi etika. Kaos oblong, meski tidak mutlak, bisa merepresentasikan identitas, status sosial, atau bahkan ideologi. Lihatlah misalnya kaos oblong made in Joger di Kuta. Ribuan orang tiap hari rela berdesak-desakan di beberapa ruangan di Jl Raya Tuban Kuta tersebut untuk mencari kaos dengan desain dan tulisan-tulisan menggelitik khas Joger. Bukan kaos sebagai pakaian yang mereka cari. Namun, bagi hampir seluruh wisatawan domestik, kaos Joger adalah representasi bahwa dia telah ke Bali.

Maka ketika di luar Bali kita bertemu dengan seseorang yang memakai kaos dengan desain khas Joger, bisa jadi kita berasumsi bahwa orang tersebut pernah ke Bali, atau setidaknya temannya, pacarnya, keluarganya.. Kaos bisa jadi semacam penunjuk hubungan seseorang dengan sebuah tempat atau kota. Hampir tiap tempat punya kaos bergambar ikon tempat tersebut. Mengutip Ariel Heryanto, salah satu pemikir kebudayaan pop di Indonesia, kaos oblong punya bobot komunikasi yang (sengaja atau tidak) telah menunjukkan identitas seseorang.

Continue reading

6 Comments

Filed under Pikiran, Uncategorized

Tubuh yang Rasis!

Gus Dur Hanya Korban Tubuh yang Rasis!

Ditolaknya Gus Dur sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 5 Juli nanti semakin menandakan bagaimana politik tubuh yang rasis berlaku di negeri ini. Sebab seolah-olah hanya orang yang sehat jasmani saja yang layak memimpin negeri ini. Padahal dari lima pasangan yang sudah disahkan oleh KPU, silakan cek adakah yang normal mentalnya. Seharusnya kalau Gus Dur dinyatakan tidak sehat jasmani oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI), maka capres yang lain juga diperiksa psikolog atau psikiater atau bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) perihal ketakwaannya. Lho, bukankah syarat capres bukan hanya sehat fisik tapi juga sehat rohani.

Sebelumnya kita sudah melihat bagaimana tubuh yang rasis itu diberlakukan di Akademi Fantasi Indosiar (AFI), Indonesian Idols, Indonesian Model, dan lain-lain. Orang yang tidak “bagus” fisiknya, jangan harap bisa menang! Kini, lengkap sudah bukti tubuh yang rasis itu di Indonesia.

Leave a comment

Filed under Pikiran, Uncategorized