Tag Archives: Peta Media

Portal Personal, Merayakan Kebebasan Informasi

Hmm, lama tidak nulis opini serius. Kalau tidak salah sih terakhir kali pas Media Indonesia memuat tulisan resensiku soal mengorganisasi diri dengan informasi Mei lalu.

Dan, kali ini aku bikin tulisan opini serius lagi. Tulisan ini pesanan Koran Pak Oles untuk edisi akhir tahun tentang jurnalisme warga. Ya sekalian media campaign tentan blog lah.

You. Yes, you. You control the Information Age. Welcome to your world. (TIME)

Senin, 12 November lalu jadi peristiwa bersejarah dalam perjalanan blogger dunia. Sebab pada hari itu, salah satu blogger terkemuka di Mesir, Wael Abbas, mendapat penghargaan prestisius dalam pencapaian jurnalis media mainstream dari the International Center for Journalists (ICFJ). Blogger Wael Abbas mendapat Knight International Journalism Award yang selama ini hanya diberikan pada jurnalis. Inilah dua hal yang akhirnya mendapat pengakuan secara formal: bahwa blogger pun masuk dalam ranah jurnalisme.

Continue reading

4 Comments

Filed under Blogging, Jurnalisme, Pikiran

Dampak Konsentrasi Kepemilikan Media di Bali

Catatan: Laporan ini adalah bahan yang saya kumpulkan untuk buku Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) tentang peta media di Bali.

Tak bisa dipungkiri, mengguritanya Kelompok Media Bali Post memberikan dampak positif bagi Bali. Dampak positif itu misalnya menghilangkan budaya koh ngomong, mendorong keterlibatan warga dalam penggunaan media massa sekaligus mengawasi kinerja pemerintah, serta mendorong semangat kewirausahaan orang Bali.

Budaya Koh Ngomong adalah sikap dan perilaku orang Bali yang enggan mengurusi masalah orang lain. Karena itu tabu bagi orang Bali untuk saling kritik apalagi disiarkan secara terbuka. Sikap seperti ini bisa terjadi karena pada masa Orde Baru, sikap kritis memang sengaja dimatikan. Di sisi lain, kemajuan pariwisata yang berakibat pada meningkatnya pendapatan Bali, memang membutuhkan suasana “harmonis”. Konflik secara tertutup maupun terbuka harus didiamkan.

Akibat budaya Koh Ngomong ini, orang Bali cenderung apolitis dan bersikap Nak Mula Keto, atau memang begitu adanya.

Continue reading

9 Comments

Filed under Bali, Jurnalisme, Kliping, Pekerjaan

Kerajaan Media Bali Post

Catatan: Laporan ini adalah bahan yang aku kumpulkan untuk buku Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) tentang peta media di Bali.

Media Cetak
Meski keran demokratisasi media telah dibuka, nyatanya bisnis media di Bali tetap saja dikuasai empat pemain utama: Bali Post Group, Radar Bali, NusaBali, dan Warta Bali. Saat ini memang masih ada harian lain seperti Fajar Bali, Patroli Post, dan Koran Bali –yang konon akan terbit kembali dengan saham terbesar dimiliki wakil bupati Badung saat ini, Ketut Sudikerta. Namun tiga media itu bisa disebut hanya sebagai figuran. Sedangkan di antara empat harian utama itu Bali Post jelas masih bisa disebut sebagai raja lokal.

Dalam penawaran pemasangan iklannya Bali Post menyebut oplah mereka mencapai 100.000 eksemplar. Data ini jelas lebih besar dari data sesungguhnya karena untuk kepentingan bisnis iklan. Sebagai bandingan majalah SWA edisi 20 Agustus 2003 menulis oplah harian Bali Post mencapai 90.000 eksemplar atau senilai Rp 64,8 milyar per tahun. Sedangkan menurut penelitian Santra (2006) oplah harian Bali Post sebanyak 87.500 eksemplar pada 2006 lalu.

Besarnya Bali Post tidak bisa dilepaskan dari Ketut Nadha sebagai pendiri sekaligus pemilik modal awal. Mendirikan koran bernama Suara Indonesia pada 1948, saat revolusi bersenjata masih terjadi, jelas bukan hal mudah apalagi dilihat dari sisi bisnis. Namun Nadha bersama dua rekannya bisa membuat Suara Indonesia bertahan. Terbit dalam bentuk majalah dan dicetak handset, Suara Indonesia pun terbit tidak tentu.

Continue reading

6 Comments

Filed under Bali, Jurnalisme, Kliping

Sekilas Peta Media Cetak di Bali

Tulisan ini adalah sebagian hasil “riset kecil”, -saya sebut kecil karena lebih banyak pakai sumber sekunder daripada sumber primer-, pada Maret 2007 lalu. Ada beberapa perubahan, terutama tentang lahirnya kembali Koran Bali yang sempat mati. Riset saya lakukan untuk membantu Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Jakarta yang akan menerbitkan buku tentang peta kepemilikan media di Indonesia.

Ada beberapa isu menarik, misalnya soal kebijakan Kelompok Media Bali Post untuk meminta uang iklan dari narasumber. Kata Widminarko, pemimpin umum tabloid Tokoh, salah satu anak penerbitan Bali Post, mereka memang menggunakan prinsip Journalist is Marketing. Ini prinsip yang aneh memang. Banyak narasumber yang senang dengan kebijakan ini karena mereka pasti bisa masuk koran kalau punya uang. But, lebih banyak lagi orang yang sedih karena kebijakan itu. Terutama mereka yang tidak punya uang tentu saja. Continue reading

6 Comments

Filed under Bali, Jurnalisme, Uncategorized

Sejarah Perkembangan Media di Bali

 Catatan: Laporan ini adalah bahan yang aku kumpulkan untuk buku Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) tentang peta media di Bali.

Zaman Kolonial Belanda
Untuk memahami sejarah media di Bali tidak bisa dilepaskan dari adanya sistem kasta di Bali. Putra Agung (2001) menyebut pelapisan masyarakat di Bali pada abad XX sangat ditentukan oleh sistem kasta, meski saat ini kasta itu sudah tidak sepenuhnya berlaku dalam hubungan sosial sehari-hari. Pada dasarnya stratifikasi sosial itu terbagi jadi empat kasta. Brahmana sebagai kasta tertinggi untuk mereka yang jadi pemuka agama. Ksatria untuk golongan bangsawan. Wesia untuk kalangan birokrat. Tiga kelompok ini disebut tri wangsa. Dia luar tri wangsa ada jaba untuk warga masyarakat biasa.

Sejarah media di Bali dimulai pada 1923 dengan lahirnya Shanti Adnyana dalam bentuk kalawarta (newsletter). Menurut Kembar Karepun, dalam manuskrip untuk buku tentang pertentangan kasta di Bali, Shanti Adnyana, berarti Pikiran Damai, itu berupa majalah bulanan yang diterbitkan organisasi Shanti. Organisasi yang berpusat di Singaraja, Bali utara ini bergerak di bidang sosial dan pendidikan, termasuk penerbitan. Pendirinya dari semua kasta.

Continue reading

1 Comment

Filed under Bali, Jurnalisme, Kliping, Pekerjaan