Tag Archives: Toleransi

Purnama Kapat dan Pengajian di Masjid Agung

Malam ini bulan masih terlihat penuh. Kemaren sih Purnama Kapat dalam penanggalan Bali. Ini hari baik, meski semua hari juga baik. Pas Purnama Kapat, banyak banget pura yang ngadain Odalan -upacara enam bulan sekali dalam penanggalan Bali.

Pas di jalan ketika aku balik dari kirim laporan di internet, aku ketemu beberapa remaja habis sembahyang di pura. Masih dengan pakaian adat mereka duduk-duduk di pinggir jalan. Ada juga yang naik motor pelukan sama pasangannya. Tiap purnama, umat Hindu di Bali memang banyak yang sembahyang di Pura Jagatnatha Denpasar.

Continue reading

1 Comment

Filed under Bali, Daily Life, Pikiran, Uncategorized

Derita Korban Pengeboman

Dua cerita tentang korban bom Bali 12 Oktober 2002.

Korban: I Nyoman Mawa, 43 tahun

Tatapan mata Ni Made Kitik, 38 tahun, mengarah mendatar ke depan. Seperti melihat sesuatu yang kosong. Sesuatu yang jauh dan tak bisa diambil. Dari wajahnya, ibu dua anak itu seperti memikirkan hal berat. Suasana duka di rumahnya masih kental terasa. Di teras rumahnya masih ada sesajen punjung, yang dipersembahkan pada arwah orang yang baru meninggal. Ada foto suaminya, yang hingga kini tidak jelas keberadaannya, I Nyoman Mawa, 42 tahun.

Kamis (17/10) ketika ditemui GATRA di kediamannya, Kitik membuatkan rujak untuk arwah suaminya. “Dia datang pada mimpi saya semalam. Minta dibuatkan rujak,” katanya. Hingga saat ini, Kitik masih merasa suaminya belum meninggal. Perempuan kelahiran Pedungan, Denpasar Selatan ini mngaku sering didatangi suaminya ketika malam. “Saya masih merasa dia ada dan mendatangi kami,” ujarnya lirih. Mimiknya mencoba tersenyum, getir.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Kliping, Pekerjaan