Monthly Archives: May 2004

Iklan yang Jadi Tuntunan

Salah satu tanda akhir zaman adalah pada zaman itu tontonan akan jadi tuntunan.. Maksudnya, sesuatu yang kita tonton akan kita jadikan sebagai hal yang patut ditiru. Demikian pernah dikatakan Muhammad, nabi umat Islam dalam sebuah kesempatan. Padahal, saat ini, sebagian besar tontonan, sangat tidak layak kalau dijadikan tuntunan.

Di Indonesia, lahirnya stasiun TV swasta sejak 1989 lalu turut menyebarluaskan tontonan kepada masyarakat yang ujung-ujungnya berakhir pada penonton yang menjadi “umat” tontonan tersebut. Tontonan itu bisa berupa sinteron, film, video klip, talk show, reality show, juga iklan.

Continue reading

Advertisements

Leave a comment

Filed under Pikiran, Uncategorized

Berekspresi Lewat Kaos Oblong

Bagi sebagian orang, barangkali termasuk kita, kaos oblong tidaklah sekadar sebagai kebutuhan dasar manusia akan sandang. Ia tidak hanya untuk melindungi tubuh dari cuaca atau demi etika. Kaos oblong, meski tidak mutlak, bisa merepresentasikan identitas, status sosial, atau bahkan ideologi. Lihatlah misalnya kaos oblong made in Joger di Kuta. Ribuan orang tiap hari rela berdesak-desakan di beberapa ruangan di Jl Raya Tuban Kuta tersebut untuk mencari kaos dengan desain dan tulisan-tulisan menggelitik khas Joger. Bukan kaos sebagai pakaian yang mereka cari. Namun, bagi hampir seluruh wisatawan domestik, kaos Joger adalah representasi bahwa dia telah ke Bali.

Maka ketika di luar Bali kita bertemu dengan seseorang yang memakai kaos dengan desain khas Joger, bisa jadi kita berasumsi bahwa orang tersebut pernah ke Bali, atau setidaknya temannya, pacarnya, keluarganya.. Kaos bisa jadi semacam penunjuk hubungan seseorang dengan sebuah tempat atau kota. Hampir tiap tempat punya kaos bergambar ikon tempat tersebut. Mengutip Ariel Heryanto, salah satu pemikir kebudayaan pop di Indonesia, kaos oblong punya bobot komunikasi yang (sengaja atau tidak) telah menunjukkan identitas seseorang.

Continue reading

6 Comments

Filed under Pikiran, Uncategorized

Tubuh yang Rasis!

Gus Dur Hanya Korban Tubuh yang Rasis!

Ditolaknya Gus Dur sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 5 Juli nanti semakin menandakan bagaimana politik tubuh yang rasis berlaku di negeri ini. Sebab seolah-olah hanya orang yang sehat jasmani saja yang layak memimpin negeri ini. Padahal dari lima pasangan yang sudah disahkan oleh KPU, silakan cek adakah yang normal mentalnya. Seharusnya kalau Gus Dur dinyatakan tidak sehat jasmani oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI), maka capres yang lain juga diperiksa psikolog atau psikiater atau bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) perihal ketakwaannya. Lho, bukankah syarat capres bukan hanya sehat fisik tapi juga sehat rohani.

Sebelumnya kita sudah melihat bagaimana tubuh yang rasis itu diberlakukan di Akademi Fantasi Indosiar (AFI), Indonesian Idols, Indonesian Model, dan lain-lain. Orang yang tidak “bagus” fisiknya, jangan harap bisa menang! Kini, lengkap sudah bukti tubuh yang rasis itu di Indonesia.

Leave a comment

Filed under Pikiran, Uncategorized

Antara Pepsi, Mercy, dan Machiaveli

Di zaman yang digambarkan Marshall McLuhan sebagai perkampungan global ini, informasi apa yang bisa dibendung? Dunia hanya ibarat kampung kecil karena informasi dengan cepat menyebar antar kampung, antar negara, antar benua. Revolusi informasi membuatnya telah melintas batas tanpa lagi terikat pada teritori ataupun ideologi. Turunannya, hampir tidak ada yang tidak bisa dipasarkan dalam kampung kecil tersebut. Bukan hanya berupa barang yang dijual tetapi juga gaya hidup, identitas, lalu ideologi. Semuanya berkelindan dalam kata benda abstrak bernama globalisasi.Pendidikan berada di antara pusaran modal global itu. Ia tidak semata menjadi kebutuhan dasar manusia akan pengetahuan, sebab pasar telah melakukan komodifikasi sehingga pendidikan bisa menjadi produk yang dipasarkan, lalu dijual. Pendidikan tidak bisa lari bersembunyi dari cengkraman globalisasi yang seperti dikatakan Anthony Giddens, tidak hanya merupakan persoalan ekonomi tapi juga menyangkut masalah politik, sosial, dan budaya.

Continue reading

1 Comment

Filed under Pikiran, Uncategorized

Musik, Rambut, dan Pemberontakan

ADA gejala menarik di Bali seiring tumbuh suburnya kelompok musik punk akhir-akhir ini. Agak prematur mungkin untuk menyebutnya, tetapi ada kecenderungan bahwa diterimanya kelompok musik punk semacam Superman Is Dead (SID) membuat atribut-atribut punk menjadi sesuatu yang tak lagi asing. Lihatlah, misalnya, pada penggunaan kalung rantai, gelang bergerigi tajam, atau atribut punk lainnya yang dipakai remaja di Bali. Sekali lagi, perlu dikaji lebih dalam hubungan sebab akibat popularitas punk dengan maraknya atribut ini. Namun dalam sejarah, mode — sebagai sesuatu yang mapan, memang berhubungan erat dengan simbol-simbol gerakan (atau ideologi bahkan) musik tertentu.Katakanlah rock n’roll tahun 1970-an, yang dilambangkan oleh kelompok semacam Beatles, Queen, Rolling Stone, dan seangkatannya. Identitas kelompok ini diwujudkan melalui rambut gondrong, celana ketat, jaket kulit, dan semacamnya. Reggae dengan rasta-nya bisa dikenali lewat baju pantai berwarna-warni, rambut panjang dan gimbal, serta kacamata pantai. Bob Marley kemudian menjadi semacam ikon kelompok ini. Atau musik R&B yang tergambarkan oleh mereka yang memakai baju dan celana gombrong serta kalung perak panjang.

Continue reading

13 Comments

Filed under Bali, Pikiran, Uncategorized

Kebangkitan Orde Baru Jilid II

(Jawa Pos, Kamis, 11 Des 2003)

Kebangkitan Orde Baru Jilid II

Oleh Anton Muhajir *

Pernyataan ketua umum Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) yang ingin mencalonkan Siti Hardiyanti Rukmana – akrab dipanggil Mbak Tutut- sebagai presiden tentu mengejutkan banyak kalangan. Pencalonan ini menyusul lolosnya partai yang dipimpin R Hartono tersebut. Artinya, Tutut -jika benar-benar dicalonkan kelak- akan menantang Megawati dalam pemilihan umum tahun depan. Dengan alasan demokrasi, bukankah ini sesuatu yang sah?

Namun, mengaca pada pencalonan Tutut saat ini dan belajar pada Pemilu 1999, akan melahirkan beberapa kekhawatiran.

Pelajaran pertama pada Megawati Soekarnoputri. Pada masa Orde Baru, Megawati merupakan simbol perlawanan kaum demokrat terhadap tirani Orde Baru. Identitas sebagai pembela wong cilik dilekatkan erat kepada Megawati. Hasilnya, PDI Perjuangan yang dipimpin Megawati menjadi partai pemenang pada Pemilu 1999.

Namun, pada praktiknya, simbol pada Megawati ini kemudian menjadi sesuatu yang ternyata hanya seolah-olah. Mitos. Pencitraan terhadap Megawati hanyalah sesuatu yang bila dianalogikan dengan pernyataan Umberto Eco dalam cultural studies sebagai hiper-reality, kenyataan berlebihan dari kenyataan sebenarnya. Tidakkah itu berarti selama ini kita telah tertipu pada identitas, citra, atau apa pun itu yang telanjur dilekatkan kepada Megawati?

Hal ini yang, barangkali, perlu kita khawatirkan dalam menyikapi pencalonan Tutut sebagai presiden pada pemilu mendatang. Sebab, meski tidak secara jelas, romantisme Orde Baru-lah yang menjadi salah satu modal PKPB untuk maju dalam pemilu. Akibat transisi kepemimpinan masih absurd, tidak sedikit masyarakat yang rindu kesejahteraan pada masa Orde Baru. Padahal, tidakkah kesejahteraan pada masa Orde Baru juga sesuatu yang seolah-olah? Tidakkah nanti Tutut akan memanfaatkan romantisme Orba ini untuk menggalang massa lalu pada kemudian hari terbukti bahwa kesejahteraan itu hanya kamuflase?

Pencalonan Tutut pun melahirkan kekhawatiran bahwa ini skenario besar lahirnya Orde Baru jilid II. Kita bisa melihatnya pada pejabat-pejabat Orde Baru yang mendominasi pencalonan Dewan Pimpinan Daerah (DPD). Mantan pejabat Orde Baru seperti Ginandjar Kartasasmita, Subiyakto Tjakrawerdaya, Sarwono Kusumaatmaja, Tanri Abeng, dan Beddu Amang bahkan lolos sebagai calon tetap DPD (koran ini, 10/12).

Di sisi lain, meski dengan jargon paradigma baru, Golkar yang pernah menjadi partai kendaraan rezim Soeharto pun kini masih memiliki massa yang tidak sedikit. Bahkan, pada pemilu lalu, jumlah pemilihnya berada pada urutan kedua setelah PDI Perjuangan.

Fenomena kembalinya orang-orang Orde Baru saat ini, bisa jadi, sama dengan skenario TNI (ketika itu ABRI) pada pergantian Orde Lama ke Orde Baru. Mengutip Muhadjir Effendy (2002), pada masa transisi tersebut, TNI menempatkan pasukan di lembaga-lembaga kekuasaan, baik legislatif maupun eksekutif. Melalui konsensus nasional, TNI berhak mengangkat 100 orang anggota DPR sebagai wakilnya dari 360 anggota DPR yang ada. Di eksekutif pun terjadi dari pemerintah pusat sampai Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dalihnya ketika itu adalah stabilitas nasional.

Pola penempatan pasukan ini dilakukan Orde Baru melalui penempatan kader di sejumlah partai. Beberapa partai yang lahir pasca-Mei 1998 pun dengan yakinnya menjadikan mantan pejabat Orde Baru tersebut sebagai pengurus pada Pemilu 1999 lalu. Sebut saja Fuad Bawazier di PAN atau Theo Syafe’i di PDI Perjuangan. Tutut pun dicalonkan PKPB yang dipimpin R Hartono, mantan kepala staf Angkatan Darat. Jadi, pencalonan Tutut adalah hal paling vulgar dari kembalinya pejabat Orde Baru. Sebab, Tutut sekaligus merepresentasikan hal yang menjadi musuh bersama mahasiswa ketika turun ke jalan pada Mei 1998, yaitu Soeharto, Orde Baru, dan TNI. Tidakkah hegemoni Orde Baru Jilid II itu tinggal menunggu waktu?

Siti Hardiyanti Rukmana pun tidak bisa menghilangkan statusnya sebagai putri Soeharto. Dia mirip Megawati yang hampir tidak pernah menanggalkan statusnya sebagai putri Soekarno. Sama halnya dengan Imelda Marcos di Filipina, Benazir Bhuto di Pakistan, dan Goerge W. Bush di Amerika Serikat. Memang tidak ada yang bisa menolak kita akan lahir sebagai anak siapa. Namun, dalam konteks demokrasi di Indonesia (atau mungkin di mana saja) selama ini, terlahir sebagai anak siapa turut menentukan kita akan menjadi apa. Hal yang perlu dikhawatirkan ialah pencalonan Tutut akan semakin menegaskan bahwa demokrasi di Indonesia belum mampu menghilangkan praktik feodalisme itu.

Terakhir, majunya mantan menteri sosial itu pun, jangan-jangan, akan membuat bangsa ini semakin lebih melihat figur daripada apa yang dilakukan figur tersebut. Tutut tentu akan menjadi alat kampanye PKPB sebagaimana figur Megawati, Amien Rais, Gus Dur, Hamzah Haz, dan lainnya. Sehingga orang akan memilih PDI Perjuangan karena Megawati, PAN karena Amien Rais, PKB karena Gus Dur, PKPB karena Tutut.

Siapa calon presidennya lebih penting daripada apa program partai yang mencalonkannya. Tidakkah itu berarti kita telah terjebak pada demokrasi figuritas?

* Anton Muhajir, mahasiswa Program Studi Teknologi Pertanian (PSTP) Universitas Udayana, Bali

Leave a comment

Filed under Uncategorized

"Surfing": Hobi Murah Penghasil Duit

Muda Kompas, Jumat, 25 Juli 2003

“Surfing”

Hobi Murah Penghasil Duit

Surfing bisa jadi pilihan hobi menarik. Biaya sekolah ditanggung, dapat uang bulanan, bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis. Sayangnya, belum banyak yang tertarik untuk menjalani hobi ini.

Dion Pardamaian Wau dan Ribut Wahyudi, dua surfer muda di Bali yang baru lulus SMU Kuta Pura, Kuta, Bali, bisa mendapatkan uang saku dari sponsor paling tidak Rp 700 ribu per bulan. Bagaimana caranya? Sponsor, man. Dion saat ini terikat kontrak dengan Kuta Line, Bali Barrel Surf Shop, dan Bajak Laut Support. Setiap bulannya, dia dapat uang saku Rp 700 ribu dan pakaian (t-shirt, celana, topi) empat kali. Lalu tiap tahun, Dion boleh ganti papan empat kali. Biar ngiler, nih. Harga satu potong pakaian paling murah seratus lima puluh ribu perak. Lalu harga satu papan sekitar 500 dolar Amrik atau sama dengan 4 juta rupiah. Mau lebih ngiler? Dion rencananya akan ke Aussie Oktober nanti, lalu ke Jepang untuk mencoba ombak di dua negara tersebut. Gratis!

Cerita Ribut tak kalah asyik. Sejak 1998 lalu, cowok kelahiran 8 Juli 1984 itu terikat kontrak dengan Spyderbilt, salah satu produsen pakaian juga. Ribut mendapatkan duit bulanan Rp 850 ribu per bulan dan biaya sekolahnya ditanggung sponsor. Selain, tentu saja, pakaian. Untuk papan surfing, cowok berambut cepak ini rutin dapat dari Three O Three. Sebelum itu, Ribut juga terikat kontrak dengan Quality, produsen pakaian surfing, dan Climbone, produsen aksesori surfing. Asyiknya lagi, dari berselancar ini Ribut pernah dapat tiket gratis berangkat ke Australia dan Jepang.

Pastinya tidak mudah mendapatkan sponsor. Untuk mendapatkannya tergantung pada relasi sesama rider (bahasa lain dari surfer) dan prestasi. Ribut langsung mendapatkan sponsor ketika juara pertama dalam lomba surfing se-Bali pada 1998. Padahal itu keikutsertaannya yang pertama dalam lomba. Dia langsung dikontrak Spyderbilt hingga akhir 2003 nanti. Berbagai prestasi kemudian diraihnya dalam kejuaraan surfing. Beberapa di antaranya Juara IV pada Om Tour Volcom Indonesia-Jepang Surfing Contest (2000), Juara III pada Billabong Surfing Contest (2002), dan Juara I Three O Three Surf Board Contest di Jepang (2002).

Adapun Dion pernah tiga kali masuk final di Om Tour Volcom Indonesia-Jepang Surfing Contest, masuk final Grommet Surfing Contest, dan masuk sebagai 15 pemain pro junior terbaik versi Billabong. Makanya enggak usah heran kalau mereka dengan mudah mendapatkan sponsor. Memang jago, sih!

Awalnya ogah

Kehebatan mereka tidak datang dari langit. Malah, awalnya Ribut dan Dion mengaku ogah dengan olahraga air ini. Perkenalan pertama mereka dengan surfing terjadi 11 tahun lalu.

Dion kenal surfing dari orangtua angkatnya, I Ketut Menda. Oleh salah satu surfer profesional di Bali itu, Dion dibawa dari tempat asalnya di Pulau Nias, Sumatera Utara, ke Bali. Sampai di Bali, dia mulai belajar surfing di Pantai Kuta. Pantai tersohor di seantero jagat ini memang bagus untuk belajar surfing. Pertama, karena dasarnya yang pasir. Kedua, karena ombaknya tidak terlalu besar. Ketiga, karena lokasinya dekat. Dan, terakhir karena ada penjaga pantai. Jadi, kalau terseret ombak misalnya, akan ada yang menolong.

Sebulan pertama Dion mengaku tersiksa dengan latihan yang harus dijalani. Kepala pusing, kulit mengelupas, dan matanya perih karena sinar matahari dan air laut. Saking perihnya selalu mengeluarkan air dan pas sekolah tidak bisa baca. Rambutnya pun berubah pirang. “Teman-teman sekolah sering mengejek apa enaknya jadi surfer,” aku penggemar musik-musiknya Blink 182 ini.

Selama dua tahun, Dion belajar dengan didampingi bapak angkatnya. Tempat favoritnya di Half Way, sebuah point di Pantai Kuta. Point ini hingga saat ini jadi home break dan tempat favoritnya bersama Ribut. Kebetulan rumah mereka juga dekat Pantai Kuta.

Begitu sudah bisa surfing mereka jadi ketagihan. Tiada hari tanpa surfing. Ketika SMP, karena masuk sekolah pagi, pukul satu siang mereka baru nyebur ke pantai. Namun, begitu SMU, mereka bisa melakukannya sebelum sekolah lantaran jam masuk sekolahnya siang.

Setelah dianggap bisa, mereka dilepas pelatihnya masing-masing. Berbagai tempat di Bali pun dicoba. Pantai di Bali memang menyajikan banyak ombak yang bagus untuk surfing. “Secara keseluruhan, tidak ada tempat di mana pun di dunia yang ngalahin bagusnya ombak di Indonesia,” kata Piping yang sudah menjelajah berbagai pantai di Indonesia antara lain Nias dan Mentawai (Sumatera), Cimaja (Bandung Selatan), hingga Neumbrella (Nusa Tenggara Timur).

Di Bali sendiri bertebaran tempat yang asyik untuk surfing. Mulai dari Medewi, Canggu, Seminyak, Legian, Kuta, Serangan, Dreamland, Padang-padang, Uluwatu, dan banyak lagi. Masing-masing menyajikan tantangan ombak berbeda-beda. Bagi Ribut dan Dion, tempat favorit selain di Half Way, Kuta adalah di Canggu.

Modalnya papan dan pakaian

Surfing tergolong olahraga murah meriah. Kalau sekadar hobi, cukuplah papan surfing dan pakaian. Papan baru, kata Dion, bisa kita beli bekas dengan kondisi bagus. Harganya paling mahal satu juta perak. “Kalau teman sendiri bisa di bawah itu,” katanya serius. Selain itu, tinggal celana. Kalau mau yang khusus surfing harganya sekitar Rp 150 ribu. Tapi, celana biasa juga it’s ok.

Dion dan Ribut juga modal awalnya cuma itu. Tapi, lamalama mereka mulai menambah “daya keren” papan mereka dengan berbagai aksesori yang mereka dapat dari sponsor, seperti leg rope (tali kaki) dan grips (pijakan kaki). Harganya sih lumayan. Leg rope berkisar Rp 200 ribu sedangkan grips sekitar Rp 300 ribu.

Modal lain yang kelihatannya sepele, tapi mempengaruhi keputusan kita ikutan surfing adalah: takut kulit berubah warna. Padahal berubah warna kulit itu jadi enggak penting begitu kita merasakan nikmatnya berdiri di atas papan, naik turun ombak, bikin style, dan macam-macam lagi. Dion sampai mengaku lebih bisa mengikuti pelajaran di sekolah setelah surfing, “Kalau saya enggak surfing sehari saja, bisa stres.” Tak berbeda, Ribut bilang, “Surfing bisa me-refresh-ing otak kita dari kejenuhan sehari-hari.”

Hanya itu? Ada satu lagi yang lebih penting: keyakinan. Kenali surfing, lalu yakini. Sesuatu yang dilakukan dengan yakin, hasilnya akan luar biasa. Seperti yang sudah dialami oleh Dion dan Ribut. Sponsor, uang akan datang sendiri. Itu semua hanya akibat dari keyakinan dan kesungguhan kita.

Berani mencoba bercanda dengan ombak di atas papan? Silakan.

ANTON MUHAJIR Mahasiswa Program Studi Teknologi Pertanian (PSTP), pernah aktif di Persma Akademika Universitas Udayana Bali

Leave a comment

Filed under Uncategorized