Monthly Archives: December 2004

Setelah Sehari Keliling Malang

Sudah hampir tengah malam di Malang. Aku di Z-Net Jl Jakarta Malang, tidak jauh dari Jl Garut 6 Malang, kantor YEPE, organisasi pecinta alam. Besok, kami mau ke Ranupane, dekat pintu masuk Gunung Bromo untuk ngresmiin rumah contoh di desa kecil tersebut.

Sehari tadi jalan-jalan keliling Malang. Dan, totally, Malang membuatku nyaman. Kota yang tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Tata kotanya masih rapi. Pedagang kaki lima mendapat tempat dan tidak mengganggu. Suasana hijau. Dingin. Nah, terakhir itu yang agak jadi masalah bagiku. Hampir seharian, aku lebih banyak pake syal. Ya, lumayanlah mengusir dingin. Maklum, aku memang punya sedikit masalah dengan cuaca dingin. Kadang-kadang menggigil gak karuan. Syukurnya sehari tadi tidak sama sekali.

Syukurnya lagi, meski seharian mendung, tidak turun hujan bahkan gerimis sekalipun. Kata temanku yang wartawan TEMPO, Malang memang selalu mendung. So, jadilah perjalanan hari ini benar-benar bisa dinikmati.

Setelah ngenet di Jl Tlogomas, aku ke Candi Singosari. Candi ini terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Malang. Ya, sekitar 11 km utara kota. Dari Terminal naik angkot LA alias Lawang-Arjosari. Murah, kok. Cuma seribu perak. Lalu naik ojek dua ribu. Candi ini peninggalan Kerajaan Singosari yang dibangun sekitar 1300 M. Namun pada 1930an direstorasi pemerintah Belanda. Yang mengesankan, aku bertemu dua orang pake kopiah putih, ngakunya sih santri pondok, sedang melihat-lihat candi. Siti Khotimah, penjaga berjilbab berumur 45 tahun, bilang kalo candi ini pun kadang-kadang dipake untuk semedi atau sembahyang umat Hindu.

Tidak jauh dari candi makam Raja Kertanegara ini juga ada dua arca pengawal. Aku sempat makan bakso di gubuk kecil di area arca ini. Asik juga sambil ngobrol dengan Sugiono, yang sudah menjaga 24 tahun lalu. Wah, hampir seumurku. Aku mendengar adzan asar ketika cabut dari lokasi ini.

Dalam perjalanan balik, di perempatan Karanglo, aku melihat seorang bapak sedang bikin kuda lumping. Pikirku, kenapa gak sekalian aja ngobrol ma orang itu. Kali aja bisa bikin tulisan. Aku pun turun meski sudah agak jauh. Bapak berumur 60 tahun itu bernama Marimin. Dia sudah membuat kuda lumping dari anyaman bambu itu sejak 1998. Sebelumnya sejak 1989, bapak tiga anak itu bikin kelompok Turonggo Mudo.

Kini dia bikin peralatan untuk kesenian kuda lumping. Di gubuknya, beratap seng berdinding gedek, dia membuat berbagai alat musik seperti kendang, terompet, gamelan, gong, dan topeng. Untungnya tidak banyak. “Kita ndak komersil tapi lebih untuk melestarikan budaya,” akunya.

‘N then, abis ngobrol ma Pak Marimin, aku ketemu temenku, wartawan TEMPO di Malang. Ada pula teman wartawan Media Indonesia. Sekitar dua jam kami ngopi di Kedai Kopi AGP di Jl Bendungan Sutami tak jauh dari kampus ITN. Wah, kenapa ya Denpasar tidak punya tempat kaya gini? Padahal di Makassar ada. Di Ambon juga ada. Asik banget ngopi sambil ngobrol di sana.

Usai ngopi, perjalanan petang beranjak malam pun dilakukan. Kami menyusuri beberapa tempat. Jl Ijen, ada yang menyebut Ijen Boulevard, merupakan kawasan cagar budaya. Dulu, tempat ini merupakan kawasan elit orang Belanda. Rumah-rumah di tempat ini dibuat dengan arsitektur seragam. Dan, sampai sekarang rumah-rumah itu masih demikian. Ada sih yang udah diubah, tapi sangat sedikit. Pemkot Malang membuat aturan soal itu. Saat ini mereka yang tinggal di kawasan ini adalah pejabat atau mantan pejabat, termasuk Rudini, mantan menteri zaman orba dulu.

Di sekitar Ijen Boulevard ada pula Jl Semeru dan Jl Bromo. Di kawasan ini pun bangunan-bangunan tua masih dijaga. Rata-rata sih toko. But, ada pula yang ngerusak. Eh, ternyata malah kantor Radar Malang. Ironis juga..

Masih di sekitar Ijen Boulevard, ada Jl Tugu. Di jalan ini ada beberapa tempat penting yaitu Kantor Walikota dan Kantor DPRD Malang. Keduanya bersebelahan. Makanya tempat ini jadi tempat favorit untuk demo. Apalagi di depan kedua kantor ini ada bunderan. Jadilah tempat ini mirip bunderan Hotel Indonesia di Jakarta. Di tempat ini, bertambah satu lagi teman perjalanan. Kali ini wartawan radio Mas (?) Malang.

Ketika aku lewat bunderan Tugu, hari sudah agak malam. Ternyata kalo malam, tempat ini jadi tempat ngedate. Hampir di setiap pojok, ada sepasang cewek cowok lagi berduaan. Ada yang duduk biasa. Ada yang mepet. Ada yang pelukan. Ada pula yang… gak usah diterusin lah..

Perjalanan berlanjut ke depan Museum Brawijaya. Aku tidak ingat persis berapa kali lewat di depannya sebelum kemudian berhenti di situ. Karena malam, museum senjata perang ini sudah tutup. Tapi di depannya ada tiga senjata: meriam satu laras, tank, dan meriam dua laras yang masing-masing berada di semacam monumen setinggi semeter. Sayang tidak ada keterangan apa jenis senjata tersebut. Keterangan yang ada cuma: DILARANG NAIK! :)

Selanjutnya, kami menyusuri Jl Pulosari. Keterangan di tempat ini sih Kawasan Wisata dan Budaya. Tapi yang ada cuma puluhan tempat makan. Di tempat ini, dulunya ada gedung olahraga. Dulunya gedung ini dipakai juga untuk kegiatan kesenian. Kini sudah diubah jadi pusat perbelanjaan. Ah, siapalah yang bisa menolak kuasa modal? Kasian amat..

Aku juga sempat lewat alun-alun dan beberapa tempat lain. Ah, aku lupa mengingatnya satu per satu. Sedikit yang aku ingat, ternyata banyak juga gereja di Malang. Di alun-alun bahkan gereja ini berdiri sebelahan dengan masjid. Damai banget kan? Bangunan-bangunan tua juga tetap terjaga. Aku jadi inget Surabaya yang bangunan tuanya sudah banyak tak terurus. Bahkan Jembatan Merah yang bersejarah itu pun kini tak terurus. Setidaknya itu yang aku liat pekan lalu ketika lewat di sana. Malang masih menjaga bangunan-bangunan tua itu.

Dan, tak lupa tadi lewat sekitar stasiun. Liat bencong. Di stadiun, yang katanya banyak bencong ternyata gak ada. Yang ada malah orang pacaran mulu. Pada sibuk lagi. :)

Finally, kami makan di Cafe Keong, lagi-lagi dekat ITN. Tempat ini juga tak jauh dari Univ Brawijaya atau kampus lain. Makan nasi goreng. Minum teh anget. Apalagi diiringi musik. Wah, gimana gak asik kalau kuliah di Malang. Pendidikan banyak. Hiburan ada. Lengkaplah..

1 Comment

Filed under Uncategorized

Malang Mendung Terus

Mendung menggantung sejak sore kemarin aku sampe Malang. Aku tidak terlalu nyaman dengan cuaca dingin. Kulingkarkan syal di leher ketika baru turun dari bus. Kusedekapkan tangan, barangkali bisa mengusir dingin. Toh, bulu kudukku masih berdiri. Cuaca ini tidak terlalu akrab bagiku.

Beberapa hari ini aku memang hanya menemui cuaca mendung. Barangkali tidak hanya kita, alam pun tengah berduka dengan apa yang terjadi di Aceh dan Sumatera Utara.

-Semoga semua korban bencana itu; di Aceh, Sumatera Utara, India, Phuket, Srilanka, dst mendapat tempat semestinya di surga-

Tadi pas lewat depan Kampus III Universitas Muhammadiyah Malang, puluhan mahasiswa sedang melakukan aksi solidaritas untuk Aceh. Beberapa pasang mahasiswa sedang berdiri di tengah jalan sambil membawa kardus terbuka, meminta sumbangan. Hm, seharusnya aku juga melakukan hal yang sama kalau tidak sedang melakukan perjalanan ini.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Daily Life, Perjalanan, Uncategorized

Natal Telah Tiba..

Buat semua yang ngrayain:
Selamat Natal.
Semoga damai di hati.
Damai di bumi.
Damai selalu.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Cerita tentang Bunga Kematian

Sejak tiga hari lalu, tiba-tiba aku agak terobsesi dengan bunga kamboja. Aku gak tau kenapa. Aku ngerasa ada sesuatu yang membuatku tiba-tiba suka banget sama bunga itu. Dan aku juga gak tau persis “sesuatu” itu apa.

Pohon bunga kamboja, bahasa latinnya Plumeria alba, ada di depan kosku. Orang Bali menyebutnya bunga jepun. Dan itu sama dengan nama ibu kosku, juga nama ibu mantan cewekku. :) Pohonnya tinggi, sekitar 3 meter, dengan banyak cabang. Daunnya hijau terbagi dua, seperti daun pohon pisang tapi ukurannya jauh lebih kecil. Bunganya putih dengan ruas-ruas membentuk lingkaran, mirip terompet. Tapi ya ukurannya lebih kecil. Baunya harum tapi nyiumnya harus deket.

Continue reading

1 Comment

Filed under Bali, Daily Life, Uncategorized

Kenapa Orang Baik Mati Muda?

Aku cuma heran, kenapa orang baik banyakan mati muda? Sementara orang jahat sampe tua masih juga hidup?Chairil Anwar, Soe Hoek Gie, dan kini Harry Roesli mati pas masih produktif. Sementara Soeharto masih juga hidup. Heran juga aku..

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tidak Ada Lagi Penulis Nakal Itu..

Pagi yang melelahkan. Setelah semalem nglembur nunggu hasil Munas Golkar di Nusa Dua, pagi ini aku ingin sesuatu yang agak santai. Tidur. Denger musik. Baca hal-hal santai. Aku terlelap, lalu bangun jam 10an karena ada telpon. Minum teh hangat. Satu donat. Lumayan buat ngangetin perut.

Lalu, koran hari ini datang. “Kebetulan hari Minggu. Biasanya beritanya kan santai-santai,” pikirku. Koran pertama, Jawa Pos. Aku baca soal Munas Golkar. Berita lain lewati aja. Ini kan Minggu, ngapain terlalu serius baca koran. Untunglah ada tulisan Ki Slamteg soal My Heart Will Go On, cerita parodi ala film Titanic. Aku senyum-senyum sendiri.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Aneka Rupa, Daily Life, Pekerjaan, Uncategorized

Wisata Gua di Kota Tua

-oleh2 pas liburan lebaran lalu-

Khusni Alhan, 38 tahun, harus merunduk ketika memasuki salah satu celah kecil dalam gua. Celah seluas sekitar 50 cm x 30 cm tersebut hanya cukup untuk satu orang. Karena itu Alhan harus masuk terlebih dahulu baru kemudian anaknya, Rizqy Muhammad Farhan, 2 tahun. Setelah melewati celah kecil tersebut bapak dan anak warga Duren Sawit, Jakarta Timur tersebut sampai di sebuah ruangan seukuran sekitar 2 m x 4 m setinggi 2,5 m. Gua kecil di dalam gua tersebut bernama Pasepen Kori Sinandhi. Hingga saat ini, kadang-kadang ada orang bermeditasi di dalam gua kecil tersebut. Karena itulah disebut pasepen yang berarti tempat bertapa (meditasi).

Pasepen Kori Sinandhi hanya salah satu gua kecil di dalam Gua Akbar. Gua yang ditemukan pada 1998 ini merupakan gua terbesar di Tuban, Jawa Timur, sekitar 100 km dari Surabaya, ibukota Jawa Timur. Melalui jalur darat perlu waktu sekitar 2 jam. Tuban merupakan kota tua di bibir pantai utara Jawa Timur. Karena letaknya ini, pada 1275, Tuban sudah menjadi pelabuhan bagi saudagar Cina yang datang ke Jawa.

Continue reading

2 Comments

Filed under Aneka Rupa, Keluarga, Perjalanan, Uncategorized