Monthly Archives: October 2004

(Katanya) Tidak Ada Paksaan dalam Beragama?

Puasa Ramadhan udah separuh jalan. Ada beberapa yang mengusik pikiran dan menarik jadi catatan. Paling tidak menurutku.

Pertama soal sweeping tempat hiburan. Ternyata bener terjadi. Sekelompok massa yang mengaku sebagai Laskar Mujahidin Islam di Surabaya dan Jakarta men-sweeping bar, kafe, dan tempat (yang menurut mereka) maksiat.

Menyedihkan! Kenapa masih saja ada sekelompok orang yang merasa berhak menyalahkan orang lain, dan bahkan menghukumnya dengan tindakan semena-mena. Kalau toh ada orang tetap berbuat maksiat, tanpa mengganggu orang yang sedang beribadah, kenapa harus diperlakukan seperti itu. Toh, katanya tidak ada paksaan dalam beragama.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Pikiran, Uncategorized

Dunia Memang Tidak Adil

Jumat sampe Minggu lalu liputan – apa liburan ya? 🙂 – di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Dari Denpasar sekitar 200 km, perlu waktu sekitar 3 jam naik mobil pribadi. Kalau dengan kendaraan umum mungkin lebih lama. Pemuteran desa kecil di bibir pantai utara Bali. Ada jalan raya besar menghubungkan Gilimanuk dan Singaraja. Gilimanuk pintu masuk utama ke Bali jika lewat darat. Sedangkan Singaraja, dulunya ibukota Bali sebelum kemudian pindah ke Denpasar.

Pemuteran termasuk desa kering. Buktinya pas aku ke sana, tanah desa berdebu. Kering. Pohon-pohon juga meranggas tanpa daun. Di bagian selatan desa ini, bukit Pulaki membentang dengan bentuk kaya grafik: dari paling rendah lalu naik. Cuma bukit itu keliatan kering. Di beberapa titik keliatan kerontang. Di bagian utara, desa ini berbatas pantai utara. Dan, ini yang jadi daya tarik Pemuteran.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Bali, Pekerjaan, Perjalanan, Pikiran, Uncategorized

God is Dead!

——- Kita telah meninggalkan daratan dan sudah menuju kapal! Kita sudah membakar jembatan di belakang kita– dan lagi, kita sudah menghanguskan daratan di belakang kita. Dan kini, hati-hatilah kau kapal mungil. Samudera raya mengelilingimu: memang benar dia tidak senantiasa mengaum, dan kadang-kadang dia tampak lembut bagaikan sutra, emas, dan mimpi yang indah. Namun akan tiba waktunya, bila kau ingin tahu, bahwa dia itu tidak berbatas.—– (Hal 31)

Dari buku yang baru saja kubeli. Judulnya Nietzsche. Karangan St Sunardi. Terbitan LKIS Yogya. Buku lama sih. Aku bahkan sudah membacanya sekitar empat tahun lalu pas pinjam dari teman. Tadi pas di Gramedia Matahari Denpasar aku beli. Soalnya buku itu yang dulu bisa membakar semangatku tentang kapal kecil, pelabuhan yang dibakar, dan gelombang tak berkesudahan. Bahwa aku bisa melewati semua.

But, kenapa ya Nietzsche -aku malah sering salah nulisnya- justru lebih terkenal karena kredonya: God is Dead? Atau biar kita tidak terlalu pasrah pada takdir kali ya.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Bosan Juga dengan Narasi Besar

Hm, tiba-tiba ada yang mengusik pikiran akhir-akhir ini. Pas abis ngobrol dengan seorang teman, ada yang lalu datang. Aku ngrasa bosan juga dengan narasi-narasi besar. Just think, do nothing!

Aku lalu inget impian sejak kecil. Ngajar di sekolah, bikin rumah baca untuk anak-anak desa, mbangun deso (kata Pak Basofi Sudirman ketika itu). Ngurus hal-hal yang kecil namun lebih terlihat hasilnya.

Semogalah segera bisa. Ada yang mau bantu? 🙂

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Selamat Datang Bulan Penuh Diskon!

Hari ini mulai puasa wajib Ramadhan. Kalau soal meningkatkan iman taqwa dan tetek bengeknya, biarlah itu diurusi orang-orang alim. Kalau aku ikut ngasih komentar tentang itu, gawat juga kan. Bisa-bisa Aa’ Gym dapat saingan. Padahal dia lagi moncer-moncernya jadi ikon orang beriman (dan sukses berbisnis) di Indonesia. 🙂

Urusanku, biarlah soal yang sepele-sepele saja. Iklan, hiburan, berita..

Continue reading

Leave a comment

Filed under Daily Life, Pikiran, Uncategorized

Berlayar Bersama Prince William di Laut Utara

-pengennya ngepost dua hari lalu. tepat setahun setelah pelayaran. but, gak ada duit+waktu. so, telat pun gak papa. tulisan ini dibuat setahun lalu sebagai laporan ke encompass trust-

Sepiring nasi goreng dengan lauk telur mata sapi terasa sangat nikmat di Graha Wisata Kuningan pada Senin (6/10) malam itu. Diterangi empat senter, sebab saat itu listrik mati, kami bisa berbicara saling terbuka tentang apa yang kami alami masing-masing, juga diselingi itu tadi, nasi goreng! Malam itu adalah malam terakhir setelah sekitar dua minggu perjalanan sebelumnya kami bersama.

Malam itu adalah malam puncak kelelahan fisik maupun mental serta kerinduan akan Indonesia, terutama makanannya. Indonesia ternyata negara yang tetap layak dikangenin, meski hanya ditinggalkan dua minggu. Pada 24 September – 3 Oktober 2003, kami mengikuti Voyage of Understanding (sengaja tetap ditulis dalam bahasa Inggris, sebab agak susah kalau di-Indonesia-kan, J). Pelayaran itu diadakan Encompass Trust dan Sail Training Association (STA).

Continue reading

Leave a comment

Filed under Daily Life, Perjalanan, Uncategorized

Jumat-Sabut kemarin ikut workshop nulis puisi dan …

Jumat-Sabut kemarin ikut workshop nulis puisi dan cerpen di Rumah Buku Cengkilung. Hasilnya?

SORE INI TAK ADA PUISI

telah kubiarkan:

detik mencekik

menit menggigit

jam menggendam

tak juga terlahir sebuah puisi.

Intinya, aku tetap saja gak bisa bikin puisi. Menyebalkan!

Leave a comment

Filed under Uncategorized