Tag Archives: Media

Sensasi Fakta di Media Massa

Semua ide di kepalaku untuk menulis masalah lain langsung hilang setelah baca media-media lokal Bali hari ini. Semuanya menulis di headline bahwa ada ledakan dahsyat di Denpasar yang mengakibatkan dua mobil hancur. Dua contoh berita ini dari NusaBali da Bali Post. Aku ambil versi online.

DENPASAR, NusaBali
Rabu, 06 Pebruari 2008
Meski tak ada korban jiwa, ledakan itu menghancurkan dua mobil dan meninggalkan lubang di gudang parkir yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto I Gang XVII No 3, tepatnya Banjar Tegeh Sari, Denpasar itu.

Continue reading

9 Comments

Filed under Jurnalisme, Pikiran

Gurita Media Keluarga Cendana

Hingga hari ini Soeharto masih terbujur sakit di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta. Begitu banyak perhatian oleh media menimbulkan banyak pertanyaan di kepalaku. Dari sudut pandang muatan media atau analisis isi media, sangat jelas bahwa berita soal Soeharto mendapat tempat utama di media. Sebatas pada media-media yang kubaca seperti Bali Post, Jawa Pos, dan Kompas, berita tentang Soeharto hampir selalu jadi headline.

Di semua TV juga begitu. Tiada berita tanpa sakitnya Soeharto. Metro TV, Trans TV, SCTV, RCTI, TPI, dan seterusnya semua memberitakan Soeharto. Berita tentang Soeharto dengan segera menenggelamkan berita-berita tentang bencana di berbagai tempat, termasuk banjir di sepanjang Bengawan Solo. Entah ke mana semua berita itu menghilang? Masalah ribuan pengungsi kini berganti sakitnya mantan diktator sekaligus pahlawan di negeri ini.

Continue reading

15 Comments

Filed under Jurnalisme, Pikiran

Rwa Bhineda di Pulau Dewata

Tadi siang ada diskusi kecil dengan Win, semeton blogger Bali yang lagi studi di Pittsburgh, Amrik sono. Obrolan via Yahoo Messenger ini bermula dari tulisan dia di blognya soal kekerasan di Bali. Win mempertanyakan apakah orang Bali sudah berubah sehingga sudah demikian akrab dengan kekerasan?

Pemicu pertanyaan itu adalah tawuran di Kuta pas tahun baru lalu. Pas pergantian tahun itu, dua orang tewas akibat tawuran di salah satu kafe. Sebatas yang aku baca di media lokal, hanya disebut tawuran. Tapi Jun, teman wartawan The Jakarta Post, menyebut itu sebagai tawuran antar-preman.

Continue reading

19 Comments

Filed under Bali, Jurnalisme, Pikiran

Hantu Blok M dalam Sejarah Tempo

Kesimpulan yang langsung muncul di otakku setelah baca buku ini adalah: membaca buku ini sama dengan bercinta. Bagian paling enak (orgasme) ada di akhir. Begitu pula buku ini.

Setelah membaca delapan bab ditambah Prolog dan Pengantar, aku merasa bagian paling enak dari buku ini ternyata ada di Bab 9. Bab berjudul Hantu Belau ini menampilkan fakta yang belum pernah aku tahu sebelumnya dari mana pun. Bahwa pernah ada hantu bernama Blok M dalam sejarah majalah ikon kebebasan pers di Indonesia ini.

Continue reading

11 Comments

Filed under Buku, Jurnalisme, Pikiran

Bukan Hak Jawab, Harap Diposting

Masih soal tulisan Ada Uang Anda Masuk Koran. Hari ini ada email masuk ke inbox-ku mengomentari tulisan tersebut. Pengirimnya Retno Endah Kadarwati Sadar Retno. Aku tidak tahu hubungan Bu Retno ini dengan Bali Post atau Kelompok Media Bali Post. Dia juga tidak menyebut hubungannya dengan Bali Post. Namun dari isi emailnya, sepertinya Bu Retno ini bekerja di sana.

Aku tidak mengedit tulisan itu. Hanya memilah beberapa paragraf karena terlalu gemuk. Selebihnya tidak ada sama sekali yang berubah.

Continue reading

15 Comments

Filed under Bali, Jurnalisme

Hak Jawab tentang Bali Post

Seorang teman mengirim email yang isinya berupa tanggapan terhadap tulisanku tentang Bali Post. Ratna Hidayati, teman yang bekerja di Koran Tokoh (masuk Kelompok Media Bali Post), itu pada dasarnya menceritakan bagaimana praktik jual beli berita juga terjadi di banyak media, tidak hanya Bali Post.

Dan, seterusnya silakan baca di bawah. Tulisan yang sekaligus sebagai hak jawab (meskipun blog ini bukan media umum yang terikat pada UU Pokok Pers) ini aku muat apa adanya. Tanpa edit titik koma sekali pun.

Continue reading

28 Comments

Filed under Jurnalisme

Ada Uang, Anda Masuk Koran

Oke. Oke. Akhirnya toh aku harus menulis juga soal “dosa-dosa” Bali Post di mataku. Ingat, ini di mataku. Belum tentu di mata orang lain. Pikiran soal ini sudah lama banget. Tapi aku tahan-tahan terus. Ya jelas saja karena tidak enak hati dan tidak berani. Lha wong Bali Post gitu loh..

Tapi lama-lama aku takut jadi bisul di otak lalu meledak -hahaha- kalau disimpen terus. Makanya yowislah. Ditulis saja. Kata orang bijak, kebenaran tetap harus disampaikan meski menyakitkan. -Hatjing!-Jadi ya aku tulis saja.

Continue reading

26 Comments

Filed under Bali, Jurnalisme, Pikiran